Kepemimpinan Joko Widodo

Analisis Kepemimpinan Jokowi

 

Profil J

Ir. Joko Widodo (lahir di Surakarta, 21 Juni 1961; umur 49 tahun), lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi, adalah walikota Kota Surakarta (Solo) untuk dua kali masa bhakti 2005-2015. Wakil walikotanya adalah F.X. Hadi Rudyatmo. Ia dicalonkan oleh PDI-P.

Jokowi meraih gelar insinyur dari Fakultas Kehutanan UGM pada tahun 1985. Ketika mencalonkan diri sebagai walikota, banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel rumah dan taman ini; bahkan hingga saat ia terpilih. Namun setahun setelah ia memimpin, banyak gebrakan progresif dilakukan olehnya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya.

Masa Kepemimpinan Jokowi

Pedagang kaki lima bukan momok, itulah pegangan Wali Kota Solo Joko Widodo ketika menata 5.817 pedagang kaki lima atau PKL di kota itu. Bagi Jokowi, sapaannya, PKL adalah potensi yang tak perlu disingkirkan.

Maka, jika di kota-kota lain PKL dikejar-kejar dan menjadi obyek penggusuran Satuan Polisi Pamong Praja, di Solo sebaliknya. Sebelum direlokasi, para pedagang diajak berdialog. Jokowi dan Wakil Wali Kota FX Hadi Rudyatmo tak hanya satu-dua kali berdialog, tetapi sampai puluhan kali bertemu para PKL.

Di kawasan Monumen 45 Banjarsari, misalnya, perlu proses dialog panjang, hingga 54 kali pertemuan, sebelum para pedagang klithikan (barang bekas) ini bersedia direlokasi.

Kata Jokowi, tugas pemerintah memberi ruang kepada pedagang kecil untuk maju, bukan menggusur mereka. ”Pemimpin yang baik adalah yang mengikuti keinginan orang yang dipimpinnya,” katanya.

Latar belakang sebagai pengusaha membuat cara pandang dia terhadap pedagang berbeda. Ketika menjadi wali kota, salah satu obsesinya adalah mengangkat status PKL menjadi saudagar.

Walau awalnya rencana relokasi sempat mendapat penolakan keras dari para PKL, dia tak mundur. Selama enam bulan Jokowi dan Hadi Rudyatmo mengajak pedagang berdialog. ”Kalau mau cepat dan gampang, bisa saja. Dengan otoritas kami, tinggal turunkan buldoser, gusur, selesai. Dalam tiga hari itu bisa rampung.”

Namun, dia memilih pendekatan lewat dialog. ”Pendekatan orang Jawa,” ia mengistilahkan.

Untuk mengetahui langsung problem pada masyarakat, Jokowi, Rudy, dan para kepala dinas setiap Jumat pagi (dua minggu sekali) bersepeda berkeliling kampung (mider-praja).

Ia lalu bercerita tentang proses pemindahan PKL dari Monumen Banjarsari ke kawasan Semanggi. ”Saya ajak pedagang makan siang atau makan malam. Mereka yang bersuara vokal kami datangi. Keinginan mereka seperti apa, kami dengarkan,” ujar pria yang dilantik sebagai Wali Kota Solo pada 28 Juli 2005 ini.

Tempat dialog mulai dari warung kecil (wedangan), pinggir jalan, lokasi PKL Banjarsari, hingga di Loji Gandrung (rumah dinas wali kota). Ketika komunikasi sudah terjalin, konsep penataan PKL disusun Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dan disosialisasikan kepada pedagang. Proses berlanjut dengan perencanaan pembangunan, pelaksanaan, baru relokasi.

”Kalau di daerah lain, pasar dibangun setelah terbakar dulu, terus dibuat kios dan dijual. Pedagang kecil harus mengangsur sampai Rp 1 juta, ya enggak kuat,” kata Jokowi yang belakangan ini kerap diundang ke berbagai daerah sebagai pembicara relokasi PKL.

Model pendekatan dialogis dan komunikatif yang mengusung misi nguwongke wong cilik (memberi martabat pada orang kecil) membuahkan hasil. Pada Juli 2006 sebanyak 989 pedagang yang berusaha di Monumen 45 Banjarsari sejak 1998 mau pindah ke Pasar Klithikan Notoharjo, Semanggi, tanpa paksaan.

Kebijakan penataan

Ia juga menerapkan kebijakan penataan PKL di sejumlah kawasan lain. Dia membangun kios semipermanen dalam satu lokasi, tendanisasi, hingga gerobakisasi. Kerja keras Pemkot Solo tak sia-sia, kini sejumlah area di kota itu bebas PKL, seperti Stadion Manahan dan Jalan Slamet Riyadi. Bahkan, di Jalan Slamet Riyadi, pedagang makanan diberi gerobak seragam untuk mendukung city walk (kawasan khusus pejalan kaki).

Jokowi juga menata pedagang pasar tradisional. Hasilnya, pendapatan asli daerah (PAD) dari pasar yang semula Rp 7 miliar naik menjadi Rp 12 miliar. ”Dari segi ekonomi, masyarakat tetap diuntungkan. Silakan cek, harga bayam di pasar tradisional itu jauh lebih murah dibandingkan dengan di supermarket.”

Agar pasar tradisional unggul, selain menata fisik bangunan, dia juga berusaha mengubah pola pelayanan dan perilaku pedagang. ”Kesan pasar kotor dan jorok harus diubah jadi bersih dan higienis,” ucap Jokowi yang membangun rumah susun sewa untuk menggantikan kawasan kumuh.

Belum genap setahun menjadi wali kota, ia ingin membuat city walk di Jalan Slamet Riyadi. Awalnya program ini sempat ditertawakan banyak orang karena dianggap mengadopsi budaya luar. Faktanya, akhir 2007 sebagian city walk mulai dioperasikan.

Untuk mempertahankan budaya Jawa, dia usulkan penggunaan aksara Jawa untuk papan nama kantor pemerintahan, sekolah, dan pusat perbelanjaan. Pada HUT Ke-263 Kota Solo, 17 Februari 2008, Jokowi meresmikan penggunaan aksara Jawa itu.

”Dulu saya sering ke luar negeri, ke Rusia, Korea, dan China. Negara mereka sangat modern, tetapi tradisinya tetap kuat. Tulisan memakai bahasa mereka. Lho, kita di sini malah pakai bahasa Inggris.”

Program itu, lanjutnya, sejalan dengan konsep pembangunan ”Solo Masa Depan adalah Solo Masa Lalu” yang diterapkan Pemkot Solo. ”Saya ingin membantu mengubah Solo menjadi kota yang berkarakter,” ujarnya.

Dalam bidang pendidikan, ia antara lain membangun Taman Cerdas bagi anak-anak tak mampu untuk mengakses perpustakaan dan komputer.

Menyangkut fasilitas pelayanan Asuransi Kesehatan untuk Keluarga Miskin (Askeskin) yang tak mencakup semua warga, ia meluncurkan program Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Solo (PKMS) pada Januari 2008. Jadilah, setiap warga Solo di luar pemegang Askeskin, Askes, dan asuransi kesehatan lain bisa mendapat kartu PKMS yang memberi pelayanan kesehatan seperti Askeskin dengan biaya dari APBD.

Eksportir mebel

Jokowi adalah eksportir mebel sekaligus kader PDI-P meski tak aktif. Awalnya ia tak tertarik terjun langsung ke dunia politik. Namun, sekitar tujuh bulan menjelang pemilihan kepala daerah, teman-temannya mendorong dia ikut pemilihan.

”Saya pikir boleh juga sebab Solo punya potensi yang belum tergarap, mulai dari budayanya, kulinernya, hingga perajinnya. Semua itu seharusnya bisa menambah pendapatan daerah,” ucap ayah yang merasa kehilangan banyak waktu pribadi setelah menjadi wali kota, seperti jogging dan mengantar-jemput anak sekolah.

Maka, tak heran kalau saat pertama memimpin apel di balaikota ia membuat ”lelucon”. Waktu penghormatan, tangannya terlalu lama di atas, padahal semua pegawai menunggu dia menurunkan tangan.

”Setelah kejadian itu, kalau upacara, saya minta digeladi resik dulu. Maklum, 30 tahun saya enggak pernah ikut upacara ha-ha-ha.”

Semua yang dia lalui tak berarti tanpa masalah. Pada tahun kedua kepemimpinannya, slogan ”Berseri Tanpa Korupsi” yang dia kampanyekan diuji. Salah seorang kepala dinas ditahan polisi dan dipenjara karena dugaan korupsi proyek wisata kuliner. Penahanan pascapertikaian dengan Kejaksaan Negeri Solo itu sempat menghiasi media massa.

Program membuat pasar malam di kawasan Pura Mangkunegaran belum terwujud. Dia juga belum berhasil menyelesaikan pertikaian dua raja di Keraton Surakarta.

Penghargaan yang diraih

1. Indonesia MICE Award

Solo yang dikenal dengan sebutan Kota Bengawan dan yang kental dengan berbagai pusat pariwisata telah meraih Indonesian MICE Award 2009. Memang tidak diragukan lagi sepak terjangnya Walikota Solo JOKOWI atau Joko Widodo. Contoh yang nyata Jokowi telah merelokasi pedagang barang bekas didaerah Banjarsari ke tempat barunya yang dikenal Pasar Klitikan tanpa menimbulkan perlawanan oleh para pedagang tersebut. Cara yang dilakukan oleh Joko Widodo melalui pendekatan kemanusiaan dan persuasif, sehingga tidak menimbulkan protes. Contoh seperti inilah dapat ditiru dan diterapkan dilain kota ( Metropolitan ) dan kota-kota lain yang tidak sedikit sering terjadi perlawanan.

Joko Widodo (Jokowi) dinilai telah mampu mengembangkan daerahnya dalam bidang industri pariwisata dan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exihibition) diwilayahnya. Pengukuhan ini didasarkan atas penilaian selama tahun 2009 terhadap sejumlah event yang berlangsung di Kota Bengawan. Penilaian dilakukan oleh tim dan  pakar MICE  di Indonesia, akademis, wakil Depbudpar dan Majalah Veneu. Penghargaan MICE Award berikutnya yaitu Walikota Yogyakarta dan Makasar. Selamat Kota Solo atas prestasi ini, maju terus kotaku.

2. Penghargaan AIBI

Bertempat di Bale tawangarum Komplek Balaikota Surakarta Selasa 20/ 7 pukul 10.00 WIB Ketua Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia/ AIBI Ir.Asril Fitri.MSc  disaksikan oleh Kepala BPPT Dr Ir Marzan memberikan penghargaan kepada Walikota Surakarta Joko Widodo/ Jokowi yang dinilai sukses dalam menumbuh kembangkan inkubator bisnis dan teknologi di Kota Solo.

3. Sepuluh tokoh Indonesia versi majalah Tempo

Wali Kota Solo Joko Widodo—yang di daerahnya disapa Jokowi—mendemonstrasikan bagaimana memanusiakan warganya. Ketika harus memindahkan pedagang kaki lima, ia lebih dulu mengundang makan para pelaku sektor informal itu. Ia tak memilih jalan pintas: mengerahkan aparat atau membakar lokasi. ”Setelah makan, ya, saya suruh pulang lagi,” kata Jokowi. Setelah undangan makan yang ke-54, baru ia yakin pedagang siap dipindahkan. Acara pemindahan meriah, lengkap dengan arak-arakan yang diramaikan pasukan keraton. Para pedagang gembira ria, mereka menyediakan tumpeng sendiri.

4. Penghargaan BHACA Award 2010

Walikota Surakarta Joko Widodo menjadi salah satu pemimpin daerah yang memperoleh Anugerah Bung Hatta Anti Corruption Award 2010 sebagai birokrat yang memiliki orisinalitas ide atau gagasan tentang reformasi birokraksi.

“Penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) diberikan kepada birokrat yang memiliki orisinalitas ide atau gagasan tentang reformasi birokrasi melalui program dan kebijakan yang bersentuhan dengan kebutuhan dasar masyarakat

Analisis

Setelah membaca beberapa uraian di atas ada beberapa tipe kepemimpinan jokowi yang sesuai adalah:

  1. Kepemimpinan Tranformasional

Merupakan kepemimpinan yang menekankan pada suatu perubahan. Saat jokowi pertama kali menjabat sebagai walikota banyak hal yang dirubah di kota solo salah satunya adalah kemampuan jokowi saat mampu memindahkan para pedagang kaki lima dengan cara yang manusiawi tanpa ada tindakan kekerasan. Selama jabatan jokowi ada beberapa tempat yang menjadi pusat wisata seperti galabo menjadi pusat makanan khas, memunculkan kembali batik laweyan agar lebih berkembang.

Melakukan reformasi di bidang birokrasi dengan membuat suatu system, agar pelayanan masyarakata dapat berjalan dengan nyaman seperti pembuatan perijinan dan pembuatan KTP.  Jokowi mengakui bahwa selama dia menjalankan reformasi dalam sistem birokrasi yang dipimpinnya baru 40 persen yang berjalan dari harapannya, namun dengan manajemen yang mulai diperbaiki pendapatan asli daerahnya meningkat jadi Rp19,2 miliar.

Di bidang perekonomian masyarakat jokowi mendukung berkembangnya UMKM, agar perekonomian masyarakat dapat berkembang.

  1. Kepemimpinan Partisipatif

Dalam kepemimpinan seorang jokowi dia juga menggunakan kepemimpinan partisipatif, sebab control pemecahan masalah dan pengambilan keputusan seimbang antara pemimpin dengan bawahan, pemimpin dan bawahan sama-sama terlibat dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Komunikasi 2 arah yang dilakukan oleh jokowi bertambah frekuensinya, jokowi makin mendengarkan secara intensif apa-apa yang dikatakan bawahannya. Jokowi beranggapan ( kepemimpinan partisipatifnya ) bahwa bawahan yang saat ini bekerja dengan dirinya memiliki keunggulan kompetitif dan kecakapan serta pengetahuan yang cukup luas untuk menyelesaikan tugas. Contoh : saat memiliki rencana untuk memindahkan pedagang kaki lima jokowi mengundang para pedagang kaki lima untuk makan bersama sekaligus dialog bersama, selain itu jokowi juga mengajak diskusi para pedagang UKM saat membangun pasar ngarsopuro, selain itu pula jokowi juga mengadakan sebuah acara yaitu sapa masyarakat, acara ini bekerja sama dengan TA TV dimana dalam acara itu jokowi menerima kritik saran dan berdialog langsung dengan masyarakat kota solo, kritik saran yang disampaikan oleh masyarakat dengan tanggap langsung direspon dengan memberikan pendelegasian kebawahannya untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dalam acara itu jokowi juga mengundang seluruh aparatur desa.

 

Kesimpulan

Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Branding untuk kota Solo dilakukan dengan menyetujui moto “Solo: The Spirit of Java”. Langkah yang dilakukannya cukup progresif untuk ukuran kota-kota di Jawa: ia mampu merelokasi pedagang barang bekas di Taman Banjarsari hampir tanpa gejolak untuk merevitalisasi fungsi lahan hijau terbuka, memberi syarat pada investor untuk mau memikirkan kepentingan publik, melakukan komunikasi langsung rutin dan terbuka (disiarkan oleh televisi lokal) dengan masyarakat.

Dengan tipe kepemimpinan yang dimiliki jokowi kota solo menjadi lebih teratur dan dikenal di dalam negeri maupun di luar negeri.

 

About lanamichi

just wanted to share experiences, stories and add to friends
This entry was posted in Leadership. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s